Resume Mata Kuliah Ekologi Laut Tropis

daftar istilah link http://dhamadharma.wordpress.com/2010/04/05/daftar-istilah-resume-ekologi-laut-tropis/

Materi :

  1. Pengenalan Ekologi Bahari
  2. Ekologi Laut Tropis ( habitat, relung, adaptasi dan evolusi )
  3. Niche / relung
  4. Siklus Biogeokimia
  5. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu.
  6. Ekosistem mangrove

Ulasan mengenai materi-materi diatas :

  1. Pengantar Ekologi Bahari

Menurut Ernest Haekal, zoology Jerman (1834-1914), ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat tinggal dan logos yang berarti ilmu. Dalam pembahasan ini kita akan mengenal tentang Ekologi dan Ekologi bahari. Pembahasan mengenai ekologi tak terlepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik antara lain makhluk hidup yang terdiri dari manusia, tumbuhan, hewan, dan mikroba, sedangkan faktor abiotik antara lain, suhu, air, kelembapan, cahaya dan topografi. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan makhluk hidup, yaitu individu, populasi, komunitas dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu system yang menunjukkan kesatuan.

Manfaat ekologi bahari :

1. Pendidikan dan penelitian di bidang kelautan

2. Daerah ecotourism

3. Daerah yang multifungsi dalam hal fungsi fisik, kimia, maupun ekonomi.

  1. Ekologi Laut Tropis

Salah satu ekologi bahari adalah Ekologi laut tropis, Contohnya adalah interaksi antara ekosistem mangrove, eksositem lamun dan ekosisitem terumbu karang.

Karakteristik laut tropis :

  1. Keanekaragaman organisme tinggi.
  2. Suhu relatif hangat.
  3. Sumber makanan, mineral dan hasil laut lain tinggi.

Perairan laut tropis merupakan daerah yang rentan akan perubahan, yang di antaranya dapat disebabkan karena kuatnya arus, gelombang, angin, ataupun suhu yang dapat berfluktuasi secara tak terduga. Terdapat 3 ekosistem yang saling berhubungan yang terdapat di perairan tropis, mulai dari darat menuju ke arah laut, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem lamun, dan ekosistem teumbu karang. Ogden dan Gladfelter (1983) menyarikan interaksi rumit dalam ekosistem laut tropis ke dalam lima kategori, yaitu interaksi fisik, interaksi bahan organik terlarut, interaksi bahan organik partikel, interaksi migrasi biota dan interaksi dampak manusia, dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Interaksi antara ketiga ekosistem laut tropis

(modifikasi Ogden dan Gladfelter dalam Bengen 2004).

Terdapat 4 interaksi yang terjadi di ketiga ekosistem laut tropis tersebut, diantaranya :

  1. Interaksi fisik

Interaksi fisik yang terjadi antara lain adalah reduksi energi gelombang, reduksi sedimentasi, dan pengaturan pasokan air baik air laut maupun air tawar dari sungai.  Komunitas lamun dan mangrove sangat bergantung pada keberadaan struktur kokoh dari bangunan kapur terumbu karang sebagai penghalang aksi hidrodinamis lautan, yaitu arus dan gelombang.  Di zona reef front, terjadi produksi pecahan fragmen kapur akibat hempasan gelombang dan terpaan arus yang terus-menerus. Fragmen-fragmen kapur ini akan diproses oleh beberapa jenis ikan, bulu babi, dan sponge untuk menghasilkan  kerikil, pasir, dan lumpur.  Selanjutnya kerikil, pasir, dan lumpur akan diteruskan ke arah pantai oleh aksi gelombang dan arus yang telah dilemahkan, sehingga membentuk akumulasi sedimen yang menjadi substrat utama di goba serta diperlukan di ekosistem padang lamun dan hutan mangrove.

  1. Interaksi Migrasi Biota.

Migrasi biota laut merupakan suatu hubungan yang penting dan nyata antara terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Ada dua kategori migrasi biota, yaitu:

  1. Migrasi jangka pendek untuk makan.

Tipe migrasi ini umumnya dilakukan oleh biota-biota dewasa.  Ada dua strategi migrasi makan, yaitu:

Umumnya tipe migrasi ini berlangsung dalam jarak pendek, dan biota yang telah diketahui melakukannya adalah bulu babi Diadema dan ikan Scaridae.

Contoh biotanya adalah ikan penghuni terumbu karang seperti ikan kakap (Lutjanidae) yang diketahui sering mencari makan di padang lamun saat malam hari, dan ikan barakuda (Sphyraenidae) yang mencari makan di hutan mangrove saat pasang naik.

2. Migrasi daur hidup antara sistem yang berbeda,

Tipe migrasi ini sering dijumpai pada spesies-spesies ikan dan udang yang diketahui melakukan pemijahan dan pembesaran larva di hutan mangrove atau padang lamun.  Hal ini dimungkinkan oleh tersedianya banyak ruang berlindung, kaya akan sumber makanan, dan kondisi lingkungan perairan yang lebih statis dibandingkan terumbu karang.  Lambat laun biota tersebut tumbuh dan menjadi besar, sehingga ruang berlindung yang tersedia sudah tidak memadai lagi dan mereka pun bermigrasi ke perairan yang lebih dalam seperti terumbu karang atau laut lepas.

  • Interaksi dampak manusia

Khusus bagi komunitas mangrove dan lamun, gangguan yang parah akibat kegiatan manusia berarti kerusakan dan musnahnya ekosistem.  Bagi komunitas terumbu karang, walau lebih sensitif terhadap gangguan, kerusakan yang terjadi dapat mengakibatkan konversi habitat dasar dari komunitas karang batu yang keras menjadi komunitas yang didominasi biota lunak seperti alga dan karang lunak.

Gambar. Berbagai kegiatan manusia yang merusak dan mengganggu keberlangsungan ekosistem laut tropis: (A) konversi hutan mangrove untuk tambak, (B) pencemaran minyak, (C) kegiatan wisata yang kurang berhati-hati, (D) pemasangan jangkar perahu yang merusak koloni karang.

  • Interaksi bahan organik partikel

Sejumlah besar bahan organik partikel yang masuk ke lautan berasal dari bahan organik terlarut dari daratan yang terakumulasi dan mengeras.  Sebagian kecil lainnya berasal dari detritus yang berupa dedaunan mangrove dan lamun yang membusuk.  Mayoritas bahan organik partikel ini akan dihancurkan terlebih dahulu oleh biota-biota mangrove sehingga membentuk fragmen yang berukuran lebih kecil. Fragmen-fragmen berukuran kecil ini merupakan makanan yang berprotein tinggi dan disukai oleh biota laut berukuran besar yang sering terdapat di terumbu karang.

Komponen-komponen dalam ekologi laut tropis adalah sebagai berikut :

  1. Niche / relung

Salah satu karakter dari ekologi laut tropis adalah dengan keberadaan relung yang merupakan profesi atau peranan organisme dalam suatu habitatnya. Tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali, tetapi juga peranannya dalam komunitas dan posisinya pada gradient lingkungan, temperature, kelembapan, pH, tanah, kondisi lain. Relung ini tergantung dimana organsime ini hidup dan mengubah energy, bertingkah laku, bereaksi, serta mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat untuk spesies lain.

Pengetahuan tentang niche merupakan sebuah landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama. Artinya untuk dapat memahami tentang suatu komunitas ataupun, pengetahuan akan niche sangat dibutuhkan untuk menjadi sebuah dasar. Contoh nya adalah dalam bidang biologi seperti perkembangan bakteri, lalu bidang energy seperti kelebihan pakan dapat menyebabkan timbulnya racun, dan dalam hal tingkah laku seperti tingkat keagresifitasan.

Aliran energy dalam niche :

Hukum Interaksi

  1. Netral : Ayam-kambing
  2. Kompetisi : sapi-kambing
  3. Predasi : Ikan Hiu- ikan kecil
  4. Mutualisme : kerbau-beruang
  5. Komensalisme : anggrek-tumbuhan
  6. Parasitisme : bakteri-hewan
  7. Amensalisme : belut listrik

Suksesi (perubahan) terbagi kedalam dua jenis, yaitu suksesi primer yang merupakan gambaran dari organisme yang memulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan sebelumnya, contohnya delta. Sementara suksesi sekunder terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan. Sebagai contoh :

  1. Diversitas tinggi       ————              diversitas rendah
  2. tersubsidi                    ————               mandiri

faktor pembatas dalam organisme  niche :

  1. Lingkungan                : cahaya, suhu atau nutrient dalam jumlah minimum dan maksimum
  2. Nutrient                      : unsur-unsur nitrat dan fosfat dalam jumlah minimum
  3. Hukum toleransi shelford : sifat toleransi
  4. Secara alam jumlah dan variabilitas seperti nutrient dan suhu udara
  1. Siklus Biogeokimia

Setelah mempelajari mengenai niche, maka hal selanjutnya adalah mengenai Siklus biogeokimia. Fungsi dari siklus biogeokimia ini adalah untuk mengembalikan unsur kimia yang telah terpakai.

Daur unsur kimia dalam ekosistem :

  1. Proses biologis dan geologis mengubah unsur-unsur kimia dari bentuk organic menjadi anorganik.

  1. Kecepatan dekomposisi bahan organic menentukan kecepatan pendauran unsur. Dekomposisi dapat terjadi dalam jangka waktu 50 tahun di daerah tundra. Di daerah tropis dibutuhkan waktu yang lebih pendek. Kecepatan penyerapan unsur-unsur kimia dari dalam tanah oleh tanaman pada suatu ekosistem yang mempunyai kandungan unsur-unsur kimia yang berbeda juga beragam.
  2. Pendauran unsur sangat dikendalikan oleh tanaman.

Daur air bukan merupakan daur biogeokimia karena perubahan yang terjadi adalah perubahan fisis.

Jejaring makanan terkait dengan daur biogeokimia

  1. Daur Karbon
    1. Keseimbangan antara fotosintesis dan respirasi sel
    2. Secara umum dan alami setimbang
    3. Aktifitas manusia meningkatkan kandungan CO2 di atmosfer

Dua proses utama makhluk hidup dalam siklus karbon :

  1. Makhluk hidup Autotrof
    1. Fotoautotrof

6CO2 + 12 H20     ——-       C6H12O6 + 6O2 + 6H2O

Oleh cyanophyta, cyanobacteria dll.

  1. Kemoautotrof

Sumber energy didapat dengan mengoksidasi senyawa anorganik seperti NH4+ (Amonium), NO2 (Nitrit), FE2+ (Besi), S2- (sulfur).

Oleh thiobacillus, acidianus, dll.

  1. Makhluk hidup Heterotrof

A.     Respirasi Aerob

C6H12O6 + 6 O2                6 O2 + 6 H20 + Energi (ATP dan panas)

Oleh fungi

  1. Respirasi Anaerob

Menggunakan unsur kimia lain selain unsur oksigen sebagai akseptor electron terakhir.

Anorganik contohnya sulfur, besi

Organil contohnya metana dan nitrat

Oleh lactobacillus, acetobacter dll

  1. Daur Nitrogen

Nitrogen memasuki ekosistem melalui 2 jalur alami, yaitu :

  1. Melalui hujan dan debu nitrogen
  2. Melalui fiksasi nitrogen, yang dilakukan mikroba prokariotik dengan kemampuan mengubah N2 menjadi senyawa yang dapat digunakan untuk mensintesis senyawa organic bernitrogen seperti asam amino.

Sumber-sumber daur nitrogen :

  1. Atmosfer (80%)
  2. Tanaman
  3. Bahan organic
  4. Tanah

Gambar Daur nitrogen

Hasil fiksasi nitrogen adalah ammonia, yang ada didalam tanah berubah menjadi ammonium setelah mengalami penambahan ion H+ (Amonifikasi), yang dapat digunakan oleh tanaman. Beberapa bakteri aerob dapat mengoksidasi ammonium menjadi nitrat, melalui proses nitrifikasi. Sementara beberapa bakteri yang dapat menggunakan oksigen nitrat dan melepaskan N2 ke udara disebut denitrifikasi.

  1. Daur Fosfor

Organisme membutuhkan fosfor untuk banyak hal, salah satunya untuk mensintesis senyawa organic. Daur fosfor lebih sederhana daripada daur-daur yang lain, hal ini disebabkan karena daur fosfor tidak melibatkan atmosfer. Fosfor hanya ada dalam bentuk fosfat, yang diserap oleh tanaman dan digunakan untuk mensintesis senyawa organic. Humus dan partikel tanah mengikat fosfat, hal ini menyebabkan daur fosfat bersifat local.

Gambar daur fosfor

Sumber utama :

  1. Batuan
  2. Bahan organic tanah
  3. Tanaman
  4. PO4- dalam tanah

Input    : pelapukan batuan

Output  : fiksasi mineral, pelindian.

Cara nutrient masuk ke ekosistem :

  1. Weathering
  2. Atmosphere  input
  3. Biological Nitrogen Fixation
  4. Immigration

Cara nutrient keluar dari ekosistem :

  1. Erosi
  2. Leaching intrusi
  3. Pembuangan berupa gas (Gaseos Losses)
  4. Emigration dan Harvesting
  1. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu.

Pembangunan di wilayah pesisir biasanya berkaitan dengan upaya optimalisasi pemanfaatan berbagai peruntukan, termasuk usaha-usaha komersial, industry, perkapalan, rekreasi, kehutanan, drainase, pengontrol banjir, perikanan tangkap, budidaya, dan lain-lain di wilayah pesisir. Aktifitas-aktifitas tersebut pada umumnya terletak di wilayah yang sama, sehingga sering terjadi bentrok kepentingan, terutama aktifitas yang membutuhkan kualitas lingkungan yang spesifik.

Untuk mengantisipasi hal ini perlu dilakukan upaya pengelolaan lingkungan yang baik. Pengelolaan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah upaya terpadu untuk melestarikan manfaat lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (UU No.23/1997), dengan tujuan untuk mempertahankan dan atau memperbaiki potensi sumberdaya alam di lingkungan wilayah pesisir.

Pengalaman telah menunjukkan bahwa pengelolaan yang dilakukan secara terpisah oleh masing-masing sector, tanpa ada landasan pendekatan secara terpadu atau integrasi, seringkali menyebabkan bentrokan kepentingan antarsektor, yang berakibat pada kerusakan lingkungan di wilayah pesisir.

  1. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir

Dengan memperhatikan kemungkinan dampak dari aktifitas pembangunan terhadap ekosistem sumberdaya di wilayah pesisir, apakah wilayah ini perlu dikelola? Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, apakah kita perlu mengelola lingkungan dan/atau sumberdaya alam di wilayah pesisir, seringkali kita “latah” atau hanya ikut-ikutan saja. Begitu melihat ada permasalahan mengenai sumberdaya alam yang ada di system tersebut diputuskan untuk melakukan pengelolaan, tanpa melihat penting atau tidaknya sumberdaya alam yang ada, potensi dampak “perusak” lingkungan tersebut, dan keuntungan dari pengelolaan.

  1. Pertimbangan Ekonomis

Pertimbangan ekonomis adalah pertimbangan yang berkaitan dengan masalah nilai ekonomis dari sumberdaya alam yang ada di daerah pesisir yang akan dikelola. Pertimbangan ini antara lain meliputi :

  1. Daerah tersebut Penting atau tidak untuk kebutuhan masyarakat.
  2. Daerah tersebut penting sebagai penghasil barang-barang komersial.
  3. Daerah tersebut penting untuk rekreasi atau pariwisata.
  1. Pertimbangan lingkungan

Pertimbangan lingkungan di sini adalah apakah lingkungan pesisir laut tersebut penting untuk hal-hal berikut :

  1. Stabilitas fisik pantai
  2. Tujuan ekonomis
  3. Tujuan budaya

3.    Pertimbangan Sosial Budaya

Untuk usulan pengelolaan dengan pertimbangan social budaya ada beberapa hal yang perlu diketahui, yaitu :

  1. Apakah daerah tersebut penting untuk :

1. pengakuan tradisi

2. nilai social dan budaya

3. mempertahankan tradisi generasi yang akan dating, dan

4. sasaran keagamaan

  1. Apa pengaruh rencana pengelolaan terhadap :
    1. Negara secara keseluruhan
    2. Masyarakat di sekitar daerah tersebut

Dengan data dasar tersebut akan memudahkan para pengelola mengidentifikasikan hal-hal berikut, yaitu :

  1. Isu mengenai pengelolaan utama dan sebab-sebabnya.
  2. Prioritas yang paling penting di antara isu yang beraneka ragam.
  3. Pemusatan kajian pada informasi data yang tidak lengkap.
  4. Konflik antarsektor
  5. Kemungkinan pilihan pengelolaan.

Konsep pengelolaan wilayah pesisir dan lautan :

Dikenal juga dengan terminologi:

  1. Integrated Coastal Zone Management (ICZM)
  2. Integrated Coastal Zone Planning and Management
  3. Integrated Coastal Management
  4. Integrated Coastal Resources Management
  5. Coastal Zone Resources Management
  6. Coastal Resources Management
  7. Coastal Zone Management
  8. Konsep pengelolaan di atas akan menghasilkan:
  9. Marine Management Area / Marine Protection Area : Daerah Pengelolaan Laut/Daerah Perlindungan Laut

Potensi sumberdaya alam pesisir dan laut kita sangat melimpah, diantaranya dilatarbelakangi karena Indonesia merupakan  Negara kepulauan  dengan jumlah pulau sekitar 17.546, serta wilayah pesisir dan laut seluas 3,1 juta km2, dan garis pantai sepankang 81.000 km, terpanjang kedua setelah Kanada. Potensi yang dimiliki Indonesia diantaranya dari ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun, serta mangrove. Berikut penjelasan singkat dari masing-masing ekosistem tersebut :

5. Ekosistem Mangrove

Salah satu sumber daya alam yang sangat potensial yang perlu dikelola secara terpadu adalah ekosistem mangrove. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23% luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil).

Pengelolaan, fungsi dan manfaat mangrove :

  1. Fungsi ekologis:

- Sebagai peredam gelombang (termasuk gelombang tsunami), angin dan badai

- Melindungi daerah pantai dari bahaya abrasi

- Sebagai penyerap nutrien organik, penahan lumpur dan perangkap sedimen

- Penghasil detritus yang merupakan hasil dekomposisi dari serasah mangrove

- Sebagai daerah asuhan, mencari makan dan berkembangbiak ikan, udang dan hewan liar    lainnya. Bentuk Pengelolaan (manfaat dan konservasi): Silvofishery, minawana. Banyak berkembang di Jawa dan Sulawesi Selatan.

  1. Fungsi ekonomi :
    1. Penghasil kayu untuk bahan bangunan, kayu bakar, bahan baku arang, tannin.
    2. Obat-obatan, energi/biofuel,
    3. Daerah nursery ground, feeding ground , dan spawning ground biota laut dan hewan liar.
    4. Pariwisata

Ancaman terhadap ekosistem mangrove :

- Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian

- Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya

- Penebangan ilegal

Sumber referensi :

Anonym.2010.Ekologi Laut Tropis. http://web.ipb.ac.id. Diakses pada 23 Maret 2010.

Muallim.2010.Materi Biologi. http://elcom.umy.ac.id. diakses pada 23 Maret 2010.

Supriharyono.2000.Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta : Gramedia.

About these ads

One thought on “Resume Mata Kuliah Ekologi Laut Tropis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s