OSPEK dan Masa Depan Mahasiswa

Furkon_ilmu kelautan 2008

Orientasi Studi Pengenalan Kampus atau yang biasa disebut OSPEK, merupakan agenda rutinan yang ditunggu-tunggu mahasiswa, baik mahasiswa lama ataupun mahasiswa baru. Sebuah kata yang terkadang tersenyum ketika mengingatnya, sebuah kata yang terkadang juga membuat diri ini ingin segera melupakan kenangan-kenangan buruk yang terkandung didalamnya, kenangan yang tentu tak enak untuk diingat-ingat kembali.

OSPEK sebuah agenda tahunan yang tentu sudah dirancang matang-matang oleh sebuah perguruan tinggi untuk memperkenalkan lingkungan perguruan tinggi yang bersangkutan. Perguruan tinggi, dalam hal ini, rektorat pun bekerjasama dengan pihak fakultas untuk mempersiapkan segala sesuatunya, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Selama ini, tentu saja sajian OSPEK bukan barang baru lagi di Republik ini, mulai dari MAPRAM, MAPTA sampai OSPEK itu sendiri, yang ternyata perubahan nama tak diiringi dengan perubahan sistem perpeloncoan ke arah yang lebih baik. Bagaimana tidak, mahasiswa baru yang tentu mayoritas baru mengenal kampus, dipaksa untuk mengikuti sistem yang sudah turun temurun dilakukan, yang efeknya tentu semua tahu, meninggalkan kesan yang tidak baik.

Pagi-pagi sekali pukul 04.45 sudah harus berada di tempat yang sudah ditempatkan tanpa toleransi sedikitpun, dengan ditemani oleh bawaan yang aneh-aneh yang tentunya membuat kepala dan kantong cukup terkuras, mahasiswa baru ini bergegas untuk berangkat, tak jarang yang belum mandi, bahkan yang paling mengenaskan tak jarang yang dengan “ikhas” meninggalkan ibadah rutinan umat muslim, shalat subuh, demi hadir tepat waktu. Apakah hal ini baik untuk dilakukan terus menerus setiap tahun?

Tak sedikit uang yang keluar untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan selama OSPEK, mulai dari kayu bakar sampai kertas karton, mau tidak mau bagi mahasiswa baru, hal ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Bahkan ada seorang mahasiswa baru dari salah satu universitas negeri di Jawa Barat bertutur, bahwa tak kurang dari Rp.700.000 uang yang keluar dari koceknya. Hal yang tak kalah mencengangkan adalah dana yang dikeluarkan oleh salah satu fakultas di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, untuk OSPEK selama tak kurang dari 7 hari, dapat menghabiskan uang sebesar Rp. 45.000.000. Apakah hal ini tak berdampak buruk jika dilakukan terus-menerus setiap tahun?

Aktivitas selama OSPEK pun tak lepas dari sorotan, mulai dari bentakan sampai perlakuan fisik tak jarang terjadi, penyebab yang diangkat mulai dari hal yang sepele sampai hal yang dianggap kesalahan besar. Tentu hal ini secara langsung berdampak terhadap 2 hal, yaitu dampak secara fisik dan secara psikis. Dalam hal fisik, lelah merupakan sebuah pengorbanan yang harus dilakukan oleh mahasiswa baru, namun bagaimana dengan perlakuan kasar dari para senior/panitia OSPEK? Seperti melakukan push-up, sit-up sampai tindakan provokatif seperti melakukan pemukulan atau perkelahian. Sementara dampak secara psikis, bagi sebagian orang ini merupakan sesuatu yang ingin dihindari, dampak berupa pencintraan pelaku yang buruk, rasa sakit hati, hingga rasa benci dan yang paing berbahaya adalah timbulnya keinginan untuk melakukan balas dendam dikemudian hari. Dampak secara psikis ini tentu lebih berbahaya bagi mahasiswa baru ketimbang dampak secara fisik yang mungkin proses penyembuhannya tak memerlukan waktu yang lama.

Lalu bagaimana pengaruh OSPEK ini terhadap masa depan para mahasiwa baru yang notabene merupakan calon penerus bangsa? Dengan keadaan yang seperti telah tergambarkan diatas, mulai dari  pengaruh secara fisik, psikis, hingga ekonomis, tentu akan sangat mempengaruhi keberadaan mahasiswa baru tersebut selama berada di kampus/perguruan tinggi.

OSPEK yang tujuan awalnya adalah untuk memperkenalkan aspek lingkungan perguruan tinggi kepada mahasiswa baru, telah bergeser dalam hal pemaknaannya oleh para pelaku yang akrab dengan kegiatan ini. Hal ini tentu sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir mahasiswa baru, sehingga mempengaruhi juga tindakan mereka, lalu berubah ke arah kebiasaan dan bermuara pada pembentukan karakter . baik, jika diawali dengan kebaikan, sehingga karakter yang terbentuk adalah karakter kebaikan, namun bagaimana jadinya ketika diawali dengan sambutan wajah garang, bentakan dan setumpuk tugas tanpa pandang bulu.

Kalau boleh berfikir secara pragmatis, berpikir dengan cara menimbang dari segi untung-rugi, tentu lebih condong kearah lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Mari kita timbang hal ini berdasarkan rangkaian kegiatan yang rutin diselenggarakan, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti :

–          Mayoritas mahasiswa yang pernah menjalani OSPEK dengan tegas mengatakan tak akan mau lagi untuk ikut OSPEK yang kedua kalinya.

–          Hal yang paling disorot adalah telah membudayanya kebiasaan kekerasan atau yang biasa disebut militerisme yang berlindung dibalik makna kedisiplinan dan penghormatan, yang mengakibatkan timbulnya keinginan mahasiswa untuk melakukan hal yang sama.

–          Faktor ekonomi tentu menjadi sebuah pengalaman yang tak ingin diulangi kembali, tercatat cukup tinggi dana yang keluar dari kocek, tak kurang dari Rp. 300.000 minimal dana yang harus keluar

–          Bila ditinjau dari segi psikologi, penanaman nilai-nilai baru yang dilakukan dalam waktu singkat tak akan efektif bila diterapkan.

–          Hukuman yang kelewat batas sangat rentan menimbulkan trauman psikologis yang tidak baik bagi masa depan manusia dalam mengarungi dunia baru (kampus)

Masa depan mahasiswa sangat erat kaitannya dengan aktifitas awal yang dilakukan, jika menginspirasi sebuah kebaikan, maka secara alamiah akan terbentuk sebuah keinginan untuk lebih baik, jika menginspirasi untuk berprestasi dengan cara baik dan benar, maka secara alamiah akan memacu keinginan mahasiswa baru untuk berprestasi. Namun jika diawali dengan kesan menakutkan, tak membuat nyaman, dan teramat kelewat batas, maka hal tersebut akan menginspirasi kepada tindakan yang tidak jauh dari apa yang mereka dapatkan.

Dan berada diposisi manakah kita saat ini, apakah :

  1. Pihak yang ikut berkontribusi terhadap pembentukan karakter yang tidak baik
  2. Pihak yang membiarkan hal tersebut berjalan seperti apa adanya, atau
  3. Pihak yang senantiasa memiliki keinginan dan perencanaan serta tindakan yang kuat untuk mengubah budaya ini menuju ke arah yang lebih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s