Resensi Buku : Fadel, Solusi Jitu Membangun Daerah

Judul                     : Fadel, Solusi Jitu Membangun Daerah

Penulis                 : Asep Sabar

Penerbit              : CV. Arena Seni, Jakarta

Cetakan               : IV/Juli 2008

Tebal                     : 278

Fadel Muhammad, seorang pria kelahiran Ternate, Maluku Utara, pada 20 Mei 1953. Pada tahun 2002 resmi menjadi seorang gubernur dari salah satu provinsi baru di republik ini, yaitu Gorontalo yang merupakan provinsi yang ke-32 di Indonesia. Sebelumnya Gorontalo merupakan wilayah kabupaten Gorontalo dan Kotamadya Gorontalodi Sulawesi Utara. Tertanggal 20 Desember 2000 Gorontalo resmi dinyatakan sebagai Provinsi dengan dikeluarkannya Undang-Undang No 38 tahun 2000 berkenaan dengan otonomi daerah.

Gubernur yang sempat mengecap sebagai penerima penghargaan Upakarti Utama dari Presiden RI pada tahun 1989 ini aktif diberbagai kegiatan kemasyarakatan dan kenegaraan, seperti menjadi Dewan Kehormatan Himpunan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Ketua umum Dewan Jagung Nasional (DJN), serta berbagai kegiatan lainnya. Suami dari Ny Hj Hana Hasanah ini juga memiliki sederet penghargaan, seperti Coastal Award dari Pemerintah Pusat (2004), Entrepreneur Agribusiness Award (EAA) (2004), Penghargaan dari Dewan Pers (2004), The Best Economist and Government Golden Award (2005) serta beberapa penghargaan lainnya. Beliau memiliki 6 orang anak, yaitu Fikri M, Faris M, Nabila M, Tania M, Fauzan M, dan Fatma Naila M,

Ketika pertama kali diangkat menjadi Gubernur Gorontalo, dengan sederet permasalahan yang telah menunggu, beliau mencanangkan sebuah visi dan misi yang dahsyat, yaitu menjadikan Provinsi Gorontalo sebagai Kawasan Agropolitan di dalam maupun diluar Indonesia. Terdapat 3 program unggulan yang beliau tempatkan sebagai prioriatas, yaitu peningkatan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia, peningkatan produksi pertanian khususnya jagung, serta peningkatan produksi perikanan.

Dalam proses membangun Provinsi Gorontalo, banyak hal yang beliau hadapi, seperti ketika pertama kali menjabat sebagai Gubernur, Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya berkisar Rp. 25 milyar, pendapatan perkapita masyarakat berkisar  Rp. 2 juta/tahun atau jika dirata-ratakan maka pendapatan perkapita masyarakat berkisar Rp. 6.000/hari/jiwa. Kondisi infrastruktur  yang sangat terbelakang, seperti jalan-jalan ke sentra-sentar pasar produksi pas-pasan, sumber daya manusia yang minim dan amat terbatas, serta perekonomian masyarakat yang morat-marit. Belum lagi budaya kerja dan mental aparat yang tidak professional, seperti budaya kerja yang lemah, statis, dan bersifat menunggu, dan pola kerja yang masih bersifat seperti penguasa (sesuai kehendak sendiri).

Untuk mengatasi masalah itu semua, beliau mengejawantahkannya ke dalam visi misi yang telah tertera di atas, dan berikut beberapa contoh bagaimana beliau bertindak sebagai seorang kepala pemerintahan di tingkat Provinsi. Dalam proses peningkatan dan pemberdayaan sumber daya manusia, beliau merubah pola pikir seorang aparatur pemerintah daerah, seperti seorang camat, beliau berkata bahwa keberhasilan seorang camat adalah bukan dengan laporan mengenai pajak ataupun PBB, namun keberhasilan seorang camat salah satunya diukur dari laporan produktivitas rakyat dan kendala-kendala untuk meningkatkan procuksi tersebut. Serta untuk aparat yang berprestasi, beliau menyediakan sebuah reward yang tergantung dengan kreativitas dan produktivitasnya.

Beliau menyatakan bahwa jabatan yang dimilikinya bukanlah jabatan Negara, melainkan jabatan publik. Jadi prinsip inilah yang dapat mengembalikan gairah beliau dan rekan-rekan kerjanya untuk terus berpacu membuat sebuah kemajuan yang berarti untuk kebangkitan Provinsi Gorontalo. Salah satu pernyataan beliau adalah terdapat 4 faktor keberhasilan sebuah pemerintah daerah, salah satunya adalah pemimpin dan rakyat haru saling mengisi tentang kehendak masing-masing.

Dalam bidang pendidikan, beliau menyusun strategi bagaimana caranya agar pendidikan berbasis kawasan, jadi para pelajar dan mahasiswa belajar mengenai potensi dan pengembangan yang ada di Provinsi. Beliau juga mempermudah akses pendidikan untuk masyarakat miskin dengan akses pendidikan dan kesehatan gratis.

Dalam bidang pertanian, beberapa kebijakan yang beliau berlakukan diantaranya adalah meningkatkan harga jagung yang semula Rp. 400/kilogram dengan luas tanam 1 hektar dapat menghasilkan 2,5 ton menjadi Rp.800/kilogram dengan luas tanam yang sama namun dengan produksi yang berkali-kali lipat. Sementara dalam bidang perikanan, beliau menaikkan harga ikan tuna yang semula Rp.7.500/kg menjadi Rp.17.000/kg. Proses ini diperkuat dengan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur. Hal ini merupakan semata-mata beliau lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan nelayan.

Pada masa pemerintahan beliau, Provinsi Gorontalo merupakan satu-satu nya provinsi di Indonesia yang mempublikasi keuangan Provinsi di Media massa lokal dan nasional secara terbuka, dan ini merupakan terobosan yang pertama kali dalam sejarah Indonesia.

Buku ini cocok bagi Anda yang berkeinginan kuat untuk menjalankan roda organisasi ataupun kepemerintahan. Filosofi dan prinsip yang beliau pegang selama menjadi pemimpin sangat cocok diterapkan dengan kondisi Indonesia yang membutuhkan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat dan bervisi dan misi besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s