Resensi Buku : Nabi Muhammad SAW

Judul               : Nabi Muhammad s.a.w

Penulis             : ‘Abdullah ‘Aidid

Penerbit           : Bulan Bintang Jakarta

Cetakan           : III/ 1961

Tebal               : 337 halaman

Buku ini mengungkap kisah perjalanan hidup seorang Nabi Muhammad, mulai dari sejarah peradaban Djazirah Arab, masa-masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad, ketika beliau lahir, masa-masa kecil, masa-masa kenabian, peperangan-peperangan yang dilewati sampai wafatnya beliau yang kemudian diteruskan oleh para sahabatnya. Dijelaskan dalam buku ini, Djazirah Arab ialah sebuah Tanah Penanjung terletak di bagian Barat Daya Benua Asia. Tanah ini terkenal dengan nama Djazirah Arab atau Pulau Arab, walaupun masih bertali dengan daratan Benua Asia, karena ia dilingkungi oleh lautan dari tiga seginya ; yaitu Lautan Merah, Lautan Hindia, Lautan ‘Omman dan Selat Persia. Sebenarnya lebih tepat kalau ia dinamakan Tanah Penanjung Arab, bukan Djazirah Arab atau Pulau Arab. Djazirah Arab terbagi lima bagian besar, yaitu Tihamah, Hidjaz, Nadjd, Jaman, dan ‘Arudl.

Kehidupan sebelum Nabi dilahirkan semua berpusat pada daerah yang memiliki pasar dan daerah yang subur, perekonomian dan sosial kebanyakan dimulai dari sini. Namun disisi lain orang-orang arab ini sangat gemar minum arak dan main judi. Salah satu adat mereka yang sangat rendah adalah menguburkan anak perempuan hidup-hidup. Perbuatan yang kejam dan biadab ini biasanya dilakukan karena  takut mendapat malu atau miskin. Diantara adat mereka yang rendah juga tercermin dari kebiasaan lekaki menikah seberapa sukanya dan menceraikan isterinya semau-maunya pula. Perempuan janda yang ditinggal mati suaminya, dipandang sebagai barang warisan. Sehingga seringkali terjadi hubungan perkawinan antara anak da isteri ayahnya atau ibu-tirinya.

Nabi Muhammad dilahirkan malam Isnen 12 Rabi’ulawal tahun Fiel bertepatan dengan 20 Agustus tahun 570 Masehi di kota Mekkah. Ayahnya bernama Abdullah bin ‘Abdulmuthalib bin Hajsim, satu keluarga yang sangat besar dan berpengaruh, bukan saja di kota Mekkah, tetapi juga di seluruh Djazirah Arab. Karena itupula yang menyebabkan mereka diberi kehormatan untuk mengurus Baitullah Alharam, turun menurun, serta menerima dan melayani pengunjung-pengunjung Rumah Suci itu. Ibunya Siti Aminah binti Wahab bin ‘Abdulmanaf bin Zuhrah, juga satu keluarga bangsawan yang sangat terhormat di kalangan kabilah-kabilah Arab umumnya.

Setelah Muhammad lahir, sesuai dengan adat kebiasaan kaum bangsawan Mekkah pada zaman jahiliyah, ialah menyerahkan anaknya diasuh dan disusukan oleh perempuan badwi yang berdiam di Badiah, biasanya selama 7 atau 8 tahun, maksudnya adalah agar perawakan anak dapat tumbuh dengan segar dan sehat serta terhindar dari pergaulan dengan orang-orang asing yang bahasanya sudah rusak dan agar sang anak dapat pula mempelajari tutur bahasa yang baik, bahasa Arab sejati, yang masih bersih dan supaya fasih lidah lidahnya. Untuk menunggu pengasuh dari luar kota, beliau di susukan oleh Tsuwaibah, sahaya pamannya, Abi Lahab.

Perempuan pertama yang menyusui nabi adalah Tsuwaibah, kemudian diasuh oleh Halimah binti Abi Zuwaib dai kabilah Bani Sa’id. Ketika beliau berumur 6 tahun, Ibunya Siti Aminah meninggal dunia ketika pulang setelah menziarahi kuburan ayahnya bersama Nabi. Kemudian beliau diasuh oleh datuknya, ‘Abdulmutthalib, yang telah berumur mendekati 80 tahun, sebagai penghormatan bagi kedudukannya, tidak ada yang berani menduduki hamparan tempat duduknya, terkecuali Nabi Muhammad, diriwayatkan ketika itu, Nabi mendekati hamparan tersebut kemudian dihalangi oleh paman-pamannya, namun ‘Abdulmutthalib menyuruh mereka membiarkan cucunya untuk dating mendekati beliau. Kemudian tak lama kemudian, kakek beliau, turut juga meninggal dunia, dan beliau langsung diasuh oleh pamannya, ‘Abu Thalib.  Pada masa kecil hingga dewasa, beliau terkenal dengan akhlak yang luhur, sopan dan dapat dipercaya oleh orang-orang.  Suatu ketika beliau mengenal seorang perempuan yang telah berumur kira-kira 35 tahun melalui usaha niaga, perempuan tersebut bernama Siti Chadijah. Beberapa tahun kemudian sampailah kepada pernikahan antara dua insane tersebut, Nabi memberikan mas kawin sebesar dua puluh ekor unta. Selama dua belas tahun menikah, beliau telah mempunyai anak sebanyak enam orang, dua lelaki dan empat perempuan. Anak sulung beliau bernama Qasim, namun dua tahun kemudian meninggal,  kemudian selang satu atau dua tahun berikutnya Siti Chadijah melahirkan keempat puterinya : Zainab, Ruqaijah, Ummu Kultsum dan Fathimah, yang bungsu bernama ‘Abdullah, tetapi tidak lama kemudian meninggal pula.

Demi mencari soal ruhani dan nafsani yang bersimpang siur, beliau menjalankan tahannuts di Bukit Hira. Selama beberapa kali berulang selam bulan ramadhan, maka datanglah didalam tidurnya penglihatan-penglihatan yang membayangkan hakikat ujud kebenaran yang dicarinya. Peristiwa yang maha penting itu pun tibalah saatnya. Ketika beliau sedang tidur di dalam tahannutsnya, tiba-tiba seorang malaikat membawa sehelai tulisan menyuruh dia membacanya serta berkata : “Bacalah”!. Dengan terperanjat belaiu menjawab : “Saya tidak pandai membaca”. Beliau direngkuh-rengkuh malaikat itu sehingga merasa nafasnya seperti akan putus, kemudian dilepaskannya beliau lalu disuruhnya membaca sekali lagi, dan percakapan yang sama terulang kembali. Kemudian malaikat berkata seperti yang tertera dalam surat Al ‘Alaq 1-5. Kemudian barulah malaikat tersebut pergi dengan meninggalkan tulisan itu didalam hati nabi. Beliau terbangun, dengan penuh perasaan cemas ia bertanya-tanya kepada diri sendiri. Apakah gerangan yang dilihatnya dan dialaminya sebentar itu. Sesampainya dirumah, beliau merasa seluruh badannya gemetar dan demam, dan berkata kepada isterinya : “Selimuti aku, selimuti aku!”.

Kemudian beliau bercerita kepada isterinya, dan singkat cerita dibawalah beliau kepada anak pamanya Waraqah bin Naufal, dan dia berkata, dia sesungguhnya akan menjadi nabi bagi umat kita ini, maka katakanlah kepadanya agar ia tetap dan tenang. Kemudian selepas dari sana, tertidurlah beliau, dan pada saat itu turunlah ayat 1-7 dari surat Al Mudatstsir. Setelah diceritakan oleh Siti Chadijah tentang pertemuan dengan Waraqah bin Naufal kepada beliau. Hari-hari berikutnya, beliau seperti biasa, bertahannuts kembali, dan menunggu datangnya malaikat yang waktu itu mendatanginya. Tetapi syukurlah, tiba-tiba Djibril pun datang kembali membawa surat Ad dluha. Kemudian lenyaplah rasa cemas dan takut beliau, dan menerima risalah untuk mengajak manusia membaktikan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Besar.

Kemudian berturut-turut beliau menerima dan melaksanakan perintah shalat, mengislamkan Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, dan para sahabat yang lain. Kemudian berlanjutlah penyebaran dakwah agama islam di Djazirah Arab, mulai dari Mekkah, Madinah hingga Persia. Metode yang digunakan pun beragam, mulai dari mengajak seperti biasanya, hingga melalui peperangan. Peperangan-peperangan yang beliau lakukan cukup banyak selama masa dakwah islam, namun yang popular di kalangan umum adalah Perang Badr, Perang Uhud, Perang Chandaq, Perang Cheibar,  Perang Muftah dan Zatu’ssalasil, Perang Hunain, serta Perang Tabuk.

Perjalanan demi perjalanan beliau lalui bersama para sahabatnya. Ketika di Mekkah sudah tidak kondusif lagi untuk menyebarkan islam, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Madinah bersama para sahabatnya. Sambutan di Madinah sangat menyenangkan hati beliau, di sana beliau mempersaudarakan antara kaum anshar dan kaum muhajirin yang sebelum ini sangat sering berselisih. Beliau juga berhasil membuat perjanjian yang sangat menentukan perjalanan umat islam di Mekkah, yaitu perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian yang menurut sebagian besar sahabat sangat merugikan umat islam, karena salah satu isinya adala apabila ada orang Mekkah yang melarikan diri ke Madinah, maka orang tersebut wajib dikembalikan, sementara apabila orang islam yang melarikan diri ke Mekkah, maka orang tersebut tidak dapat dikembalikan kepada Rasulullah (Madinah).

Menjelang usia 60 tahun, suatu ketika beliau mengalami sakit demam yang cukup tinggi, hingga posisi beliau untuk mengimami shalat berjamaah di mesjid diwakilkan oleh sahabatnya, Abu Bakr. Beberapa hari setelah itu, beliau meninggal dunia didalam pangkuan isterinya Siti Aisyah. Mendengar berita wafatnya Nabi Muhammad, sahabat beliau, Umar bin Khattab tidak percaya, hingga beliau mengumumkan kepada orang banyak disekitar mesjid bahwa Nabi tidak wafat. Namun ketika itu Abu Bakr datang, dan menghampiri jenazah Nabi, dan beliau yakin bahwa Nabi memang sudah tiada. Bergegas kemudian Abu Bakr menuju ke tempat Umar yang sedang berbicara dan meminta Umar untuk berhenti berbicara dan mengizinkan Abu Bakr untuk berbicara. Beliau berkata dengan sebuah kalimat yang sangat menyentuh yaitu “Hai kamu sekalian! Barangsiapa yang menyembah Muhammad ketahuilah bahwa Muhammad telah mati, barangsiapa yang menyembah Allah hidup tiada mati. Lalu dibacanya ayat 144 dari surat Ali Imran yaitu : “Dan tidaklah Muhammad itu melainkan Rasul sebagai Rasul-Rasul yang telah terdahulu dari padanya, apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik; barangsiapa yang berbalik namun ia tidak akan merugikan Allah, bahwa Allah akan membalas jasa orang-orang yang bersyukur”.

Setelah beliau wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakr, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thallib.

Buku ini sangat sarat dengan hal-hal baru yang perlu kita ketahui, diantaranya bahwa Khalid bib Walid dan Abu Sufyan, pada akhirnya memeluk Islam, dan hal-hal menarik lainnya. Buku ini cocok bagi semua kalangan yang menginginkan pengetahuan tentang Nabi Muhammad yang sebenarnya, khusus bagi kaum muslim yang mengaku mencintai Nabi Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s