Resensi Buku : Seni Menghadapi Publik

Judul               : Seni Menghadapi Publik

Penulis             : Dr. Akrim Ridha

Penerbit           : Syamil

Cetakan           : I/November 2003

Tebal               : 182 halaman

Buku ini menggambarkan tentang bagaimana mempersiapkan diri dan jiwa untuk menghadapi publik, bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum menghadapi publik, bagaimana sikap ketika sedang menghadapi publik, serta bagaimana seharusnya setelah menghadapi publik. Publik yang dimaksud disini adalah ketika berpidato, berceramah atau hal-hal lain yang berhubungan dengan interaksi dengan orang banyak. Buku ini terdiri dari IV Bab, Bab I berisi tentang fenomena-fenomena yang ada saat sebelum ataupun sedang berhadapan dengan publik. Bab II berisi tentang langkah-langkah yang harus dipersiapkan sebelum menghadapi publik. Bab III berisi tentang pelatihan-pelatihan yang harus dipersiapkan sebelum menghadapi publik. Bab IV berisi tentang seni menghadapi public, mulai dari memasuki mimbar, berdiri, sampai mengolah isi pembicaraan.

Pada Bab I terdapat bahasan-bahasan seperti dibawah ini :

  1. Ada 4 syarat agar Anda bisa menjadi orator :

–          Mulailah dengan motivasi yang kuat

–          Ketahuilah sepenuhnya apa yang akan Anda bicarakan

–          Bicaralah dengan penuh keyakinan

–          Berlatihlah…berlatihlah…berlatihlah

  1. Macolaf berkata, “ Apabila Anda memiliki tingkat kecerdasan yang rata-rata dan ingin melakukan satu perkerjaan  dengan baik, maka sudah sepatutnya bila Anda merasa sedikit stress (tegang).” Kita akan mengalami ketegangan ketika menghadapi tantangan, memiliki sesuatu yang sangat menarik perhatian kita, atau-secara terus terang- ketika kita sedang mengalami ketakutan.
  2. Membatasi ketakutan yang dibatasai oleh 4 fenomena berikut ini :

–          Kekhawatiran disebabkan sensitivitas situasi

–          Reaksi fisik di saat berpidato

–          Pembicaraan dalam hati dan pengetahuan terhadap kapasitas diri (konflik pemikiran)

–          Dosa yang tersembunyi

Pada Bab I ini cukup memberikan referensi baru kepada pembaca mengenai persiapan dasar mengenai seni menghadapi publik, Bab ini cocok bagi Anda yang masih merasakan ketegangan ketikan hendak menghadapi publik.

Pada Bab II terdapat bahasan-bahasan seperti dibawah ini :

  1. Anda perlu menelaah

Pada bagian ini, penulis menjelaskan bahwa pada tahapan persiapan, kita perlu menelaah buku apa saja yang harus kita baca dan dalami untuk kemudian dikumpulkan dan diseleksi pada tahap selanjutnya

  1. Anda perlu menyeleksi

Seleksi disini dimaksudkan bahwa setiap buku yang sudah Anda telaah, tahap selanjutnya adalah menyeleksi bagian apa saja dalam buku tersebut yang cocok dan tepat sesuai dengan kebutuhan Anda, sebagai contoh :

–          Al Quran               : ayat-ayat mana saja yang sesuai dengan topic yang Anda pilih

–          As sunnah             : pilihlah yang shahih dan jangan lupa untuk mencantumkan sumber

–          Penuturan ulama salaf

–          Penuturan ulama kontemporer

–          Dari syair pilihlah yang berhikmah dan sesuai dengan topik

  1. Anda perlu menyusun

Setelah Anda menyeleksi bahan-bahan dari buku-buku yang telah Anda telaah, baru mulailah melakukan penyusunan dan membuat arsip khusus untuk persiapan Anda berpidato, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan :

–          Tulislah apa yang Anda seleksi dalam kartu kecil/potongan-potongan kecil

–          Hendaklah Anda memiliki sekumpulan stopmap dan menuliskan pada sebuah judul dan tema besar pada setiap stopmap

–          Menelaah buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi, lalu kumpulkan sesuai temanya

–          Koleksilah buku-buku catalog

  1. Anda perlu menghapal

Anda juga perlu untuk menghapal bagian-bagian penting yang akan disampaikan dalam pidato, hal ini akan meminimalisir kerugian akibat ketergantungan dari sebuah catatan saat berpidato. Dua hal yang dapat Anda persiapkan untuk menghapal :

–          Sebuah kantong buku (agar bisa dibawa kemana pun Anda pergi)

–          Computer atau zaman sekarang laptop

Pada Bab III terdapat bahasan-bahasan seperti dibawah ini :

  1. Pasal pertama  : Berlatihlah Sebelum Menghadapi Publik
    1. Kembali Kepada Rasa Percaya Diri
    2. Separuh pertarungan         : maksud dari separuh pertarungan disini adalah agar Anda mengenali audiensi/pendengar anda, seperti :

–          Atensi

–          Target-target

–          Usia yang mendominasi

–          Jenis kelamin yang terbanyak

–          Kapasistas intelektual

–          Kapasitas ekonomi dan sosial

Kenalilah publik Anda meskipun mereka membenci Anda, penuhilah Hati Anda dengan kecintaan kepada mereka dan meskipun publik jauh lebih pandai dari Anda.

  1. Jadikanlah seseorang sebagai guru Anda

Hendaklah ada seseorang yang menurut Anda dapat dijadikan sebagai panutan  atau contoh. Anda dapat belajar bagaimana mempersiapkan dan menghadapi publik saat berpidato. Anda harus berusaha mengikuti gaya penyampainnya dan berusaha mengikuti sistem dan metodenya. Ini merupakan sarana yang efektif dalam pelatihan.

  1. Berlatihlah… berlatihlah… berlatihlah…

Berlatih dalam hal ini dapat dilakukan dimana saja sesuai dengan tingkat kenyamanan Anda. Bisa dilakukan di atas atap rumah, di depan sebuah ruangan besar yang hanya berisi meja dan kursi, dan di tempat-tempat lain yang sesuai dengan keinginan Anda.

  1. Sempurnakan Bekal Pengetahuan Anda
  1. Pasal Kedua    : Berlatihlah Saat Anda Menyiapkan Pidato

Menyiapkan Pidato

–          Tahap Pertama : Menentukan tema

  • Memilih tema yang terbaik

Sebelum menentukan satu tema, hendaknya Anda menyandarkan diri pada gagasan-gagasan berikut ini,

  1. I.            Satu pertemuan satu topic
  2. II.            Perdalamlah makna pada satu topik yang dipilih
  3. III.            Jangan biarkan gagasan-gagasan Anda saling bersinggungan.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan :

  1. I.            Tulislah tema-tema penting
  2. II.            Pilih mana yang paling utama
  3. III.            Bagilah tema tersebut menjadi beberapa judul
  4. IV.            Pilih judul yang paling utama
  5. V.            Bagilah judul menjadi beberapa anasir-anasir yang dikandungnya
  6. VI.            Pilihlah anasir yang paling utama
  • Pemaparan yang memikat
  1. I.            Buatlah pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu
  2. II.            Pendefinisian secara singkat
  3. III.            Sebagai sebuah penilaian terhadap tema
  4. IV.            Sebagai pembatasan tema secara langsung

–          Tahap Kedua        : Mengumpulan Informasi (bahan)

  • Semangat kelimpahruahan/milionare
  • Infomasi yang valid
  • Jangan mengumpulkan kecuali gagasan-gagasan Anda sendiri
  • Gagasan-gagasan kemasan
  • Robot/alat pengumpul informasi

–          Tahap Ketiga        : Perencanaan dan Perangkaian Anasir

  • Bagian pertama : Pendahuluan

Dari sini kita bisa menjelaskan target-target dan fungsi-fungsi pendahuluan kedalam tiga point berikut :

  1. I.            Menarik perhatian
  2. II.            Mengaitkan tema dengan kebutuhan audiens
  3. III.            Menyebutkan gagasan sentral dan merangkum poin-poin utama
  • Bagian kedua  : Tema
  • Bagian ketiga  : Penutup

Ingatlah bahwa bagian terakhir dari pidato Anda akan tertanam kuat dalam benak. Waspadalah, tutuplah pembicaraan sebelum Anda merasa Audiens mengingikan hal itu.

–          Tahap Keempat    : Menghapal Pidato

  • Renungkanlah
  • Asosiasikan dengan : kata-kata kunci, gambaran, rangkaian logis
  • Pengulangan

Akhirnya

Ketika melupakan alur pidato atau salah satu dari anasirnya, janganlah Anda berhenti dan berdiam diri, atau berbicara dengan tergagap-gagap. Akan tetapi teruskan pembicaraan seputar makna lain yang Anda temukan. Lalu setelah itu berusahalah mengingat point selanjutnya. Ingatlah selalu, “penyampaian yang buruk jauh lebih baik daripada kekalahan karena kematian”

Pada Bab IV berisi tentang Bagaimana Menghadapi Publik

  • Pasal Pertama  : di atas mimbar
  1. Menghadaplah Selalu ke Arah Audiens
  2. Fokuskan Gagasan Utama Anda Pada Perjalanan Pidato
  3. Menarik perhatian audiens :
    1. I.            Cerita
    2. II.            Tantangan
    3. III.            Ungkapan-ungkapan yang mempesona
    4. IV.            Buatlah perumpamaan
    5. V.            Pemaparan data-data
    6. VI.            Pertanyaan
    7. VII.            Seruan
    8. VIII.            Ekspresi tentang perasaan atas sesuatu yang telah berlalu
    9. IX.            Penggambaran secara rinci dan demonstrative
    10. X.            Humor
    11. XI.            Kutipan-kutipan
    12. Cenderunglah pada aspek keinginan-keinginan audiens anda
      1. I.            Apa yang audiens anda harapkan
      2. II.            Kapan dan bagaimana anda akan menyembunyikan lonceng untuk merespons berbagai kebutuhan audiens, lonceng yang dimaksud adalah :
  • Informasi yang layak mendapatkan perhatian
  • Data-data yang perlu diamati
  • Kisah
  • Humor
  • Berita menarik
  • Atau serangkaian pertanyaan
  1. III.            Apa saja kebutuhan-kebutuhan utama seseorang? Dan bagaimana metode mendatangkan semua kebutuhan itu?
  • Kebutuhan ekonomi
  • Kebutuhan psikologis
  • Kebutuhan untuk mendapatkan kebebasan
  • Kebutuhan untuk bisa diterima masyarakat
  1. Batasilah gerbong anasir utama anda
  2. Penuhilah gerbong-gerbong anda dengan sejumlah point-point subsidir
  3. Ikatlah gerbong-gerbong anda dengan pengait yang kuat
  4. Waspadalah jangan sampai keluar dari rel
  5. Perhatikanlah gerbong terakhir anda

10.  Melompatlah dari kereta gagasan anda

Yaitu dengan ungkapan penutup yang harus tetap terngiangdalam benak para pendengar, kalimat penutup ini hendaknya :

  • Pendek, sehingga mudah diingat kembali
  • Indah, sehingga enak untuk dinikmati dan diingat-ingat
  • Tidak mengejutkan, akan tetapi wajar dan alami seiring dengan alur kalimat penutupan
  • Pasal kedua     : Rekan Perjalanan Anda
  1. Penampilan dan kepribadian

Penampilan memiliki pengaruh, tetapi kekurangan dari itu tidak sampai mengurangi kemampuan sebagian orator ulung untuk menembus ke relung hati audiens.

  1. Penyampaian

Ahli hikmah berkata, “tetapi cukup apabila seseorang mengetahui apa yang seharusnya ia ucapkan, akan tetapi hendaknya ia harus mampu mengucapkannya sebagaimana mestinya”.

  • Suara

Perhatikanlah volume suara Anda (dari sisi kerendahan dan ketinggiannya), dan kecepatannya (dari sisi kecepatan dan keterlambatannya). Jangan sampai volume suara selama berpidato, monoton.

  • Gerakan

Gerakan kedua tangan hendaknya bsia mengungkapkan makna-makna tertentu, janganlah hanya sekedar gerakan yang merusak konsentrasi audiens. Isyarat tangan seringkali bisa mengungkapkan banyak makna dan pesan.

  1. Gaya bahasa
  • Antara bahasa “amiyah” dan bahasa “fushha”

Terlalu umum dan terlalu intelek

  • Bersama nahwu dan sharaf
  • Antara sastra dan kejelasan
  • Antara komitmen dan Inovasi

Setelah menghadapi publik :

Jangan lupa,

  1. Bertanya tentang orang-orang yang tidak hadir
  2. Berkenalan dengan orang-orang yang interest
  3. Memberikan yang terbaik
  4. Menghilangkan perselisihan
  5. Membangun proyek-proyek baru
  6. Menghafal nama, pekerjaan dan alamat
  7. Bersikap tawadhu’
  8. Menyebutkan kebaikan  orang-orang dan menutupi kekurangannya
  9. Fiqih yang memadai

10.  Jangan pernah merasa gagal betapapun opini sebagian dari publik anda tidak berpihak pada anda

Buku ini cocok di baca oleh Anda yang senang berbicara di depan umum, bagi Anda yang sering mengisi acara-acara formal, dan bagi Anda yang ingin belajar bagaimana seni menghadapi publik, karena buku ini mengupas cukup tuntas, mulai dari persiapan sebelum menaiki mimbar(panggung), ketika di hadapan mimbar sampai ketika turun. Anda akan menemukan sesuatu yang bermakna ketika melewati lembar demi lembar buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s