Pantaskah Kita Memasuki Surga-Nya

By Furkon

Apa yang teman-teman rasakan ketika mulai merasakan tanda-tanda kehidupan setelah terbangun dari tidur? Apa pula yang teman-teman rasakan ketika mulai ingin memejamkan mata untuk sejenak “meninggalkan” dunia ini? Tentu dua pertanyaan ini sangat mudah untuk dijawab, sangat mudah untuk diterapkan dalam keseharian, tapi tahukah kawan bahwa diantara dua waktu tersebut, waktu ketika bangun tidur dan ketika hendak tidur terdapat waktu diantara hidup dan mati?. Sederhana namun banyak yang terlena, mudah namun banyak yang memudahkan, sehingga sering terlewatkan.

Rasulullah saw telah mencontohkan bagaimana sikap seorang muslim ketika hendak tidur, ketika bangun dari tidur, bahkan ketika terbangun karena bermimpi buruk. Bagaimana sikap Rasul ketika hendak tidur, beliau mengambil wudlu untuk kemudian melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum tidur, beliau menganjurkan kepada umatnya ketika tidak yakin untuk melaksanakan Qiyamul Lail, maka shalat sunnahlah dua rakaat sebagai pengganti shalat malam. Beliau juga telah mencontohkan bagaimana sikap seorang muslim ketika tidur, mulai dari posisi, hingga lama tidur. Belaiu menganjurkan posisi tidur yang pertama adalah terlentang dengan tubuh menghadap ke atas, persis seperti posisi ketika kita ingin di kafani. Beliau juga menganjurkan berapa lama waktu yang cocok untuk kita tidur, yaitu sekitar 4-6 jam setiap harinya. Sikap seorang muslim ketika terbangun tiba-tiba pun tak luput dari perhatian Rasul, yaitu barang siapa yang bermimpi buruk lalu terbangun, maka meludahlah sebanyak tiga kali kearah kiri. Namun sayang, anjuran kini hanya tinggal anjuran, yang sekedar hanya di baca ketika membacanya dibuku maupun di dengarkan ketika mendengar ceramah, namun sangat jarang yang mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan pentingnya adalah sudah seberapa jauhkah kita mengenal dan memahami agama ini? Memahami apa saja keistimewan agama ini, memahami keindahan agama ini. Kini kita hanya disibukkan oleh hal-hal yang membuat kita semakin jauh dengan ajaran agama ini, semakin terpuruk dengan perilaku buruk ini, dan semakin terjerat dengan rutinitas yang semu dan hanya menggunakan kenikmatan sesaat.

Apakah kita pantas untuk menetap di Surga-Nya, apakah pantas doa-doa kita dikabulkan sementara kewajiban, kita kesampingkan, apakah kita pantas mendapat ridho-Nya, apakah kita pantas? Pantaskah kita berharap akan suatu impian ketika cara dan proses yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang telah di tentukan? Pantaskah diri ini meminta ketika masih banyak amanah-amanah yang kita lewatkan?

Kita terlalu naïf akan keburukan diri ini, kita terlalu “pemalu” untuk mengakui bahwa diri ini membutuhkan-Nya, kita terlalu sombong untuk mengatakan bahwa aku butuh kamu, kita terlalu berani untuk berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran agama ini, dan kita terlalu “santai” dengan waktu yang telah kita buang secara tak sadarkan diri, bahkan kita terlalu “baik” pada musuh-musuh agama ini yang setiap saat telah mengintai kita dari tempat yang tak terduga dan dari waktu yang tak ditentukan.

Teman, pantaskah kita memasuki surga-Nya sementara kita masih duduk terlena ketika saudara-saudara kita di Palestina, Afganistan, Irak dan Negara-negara lain berteriak kesakitan dan kekurangan, bahkan kita masih tetap duduk terlena ketika tetangga kita kelaparan, ketika teman kita kesulitan, dan ketika saudara kita kesakitan. Dimana letak keinginan kita yang ingin memasuki surga-Nya?.

Sungguh kawan, surga tidaklah murah, surga tidaklah mudah untuk didapati, dan surga bukanlah untuk orang-orang pengecut. Pantaskah kita berharap masuk surga hanya dengan bersedekah Rp.1000,-? Pantaskah kita berharap masuk Surga hanya dengan bermodal shalat? Dan Pantaskah kita masuk surga hanya dengan berpuasa?

Sekali-kali tidak kawan, memilih untuk masuk surga bukanlah sebuah perkara mudah, bayangkan bagaimana beratnya cobaan yang diberikan Allah pada Nabi Yusuf ketika beliau terjebak oleh rencana busuk istri seorang raja, beliau dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, didepan telah ada seorang wanita yang cantik dan menawarkan diri untuk berzina, berkedudukan pula, seorang istri raja, namun di satu sisi beliau berpikir jika dia memenuhi keinginan sang wanita, maka kehidupannya akan hancur, tapi ternyata kadar keimanan beliau sangat kental mengalir dalam darah, beliau memohon pada Allah untuk menjaganya, dan selamatlah beliau dari niat busuk seorang istri raja tersebut.

Agama ini dibangun atas dasar keimanan, atas dasar persaudaraan dan atas dasar pengorbanan. Banyak diantara sahabat-sahabat rasul yang memiliki amalan unggulan untuk memasuki surga-Nya, diantaranya ada yang hampir selama hidupnya tidak pernah meninggalkan air wudlu, atau selalu dalam keadaan bersih. Ada juga yang amalan unggulannya berupa bacaan Alquran yang tidak pernah terputus, selalu setiap saat beliau membawa Alquran nya kemana pun beliau pergi. Ada juga yang amalan unggulannya berupa rutinintas shalat malam yang tak pernah terputus. Lalu apakah amalan terbaik kita yang membuat kita pantas untuk memasuki surga-Nya?



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s