“Memaknai Hari Nusantara Bagi Insan Kelautan dan Perikanan Indonesia”

Furkon

Mahasiswa Ilmu Kelautan Unpad

 

Indonesia merupakan Negara kepulauan, Negara yang memiliki 17.504 pulau-pulau kecil (Depdagri,2006) yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang di dunia, yaitu 95.181 Km dan memiliki luas wilayah perairan laut sebesar 5,8 juta km2. Fakta lainnya adalah bahwa Negara yang pernah memiliki pemimpin karismatik seperti Bung Karno ini terdiri dari dua pertiga (2/3) wilayahnya adalah perairan laut. Pulau-pulau yang ada disatukan oleh perairan laut menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari nusantara yang biasa diperingati pada setiap tanggal 13 Desember merupakan salah satu hari besar Negara Indonesia yang memiliki makna penting dalam proses pembangunan nasional, terlebih khusus dalam sektor kelautan dan perikanan. Hari Nusantara merupakan hari yang bersejarah bagi Indonesia. Pada tanggal tersebut tepatnya 13 Desember 1957, Ir.Djuanda bersama Mr. Mochtar Kusumaatmaja berhasil membuat Indonesia menjadi “Archipelagic State Principle” dalam Sidang Dewan Menteri Republik Indonesia. Berikut isi dari Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 : ”Segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia. Lalu-lintas yang damai diperairan pedalaman ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia”. Momentum hari nusantara ini penting untuk dimaknai oleh seluruh rakyat Indonesia. Dalam sektor kelautan dan perikanan, Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang memiliki sumberdaya hayati laut yang sangat tinggi dan beragam. Sumberdaya ini terbentang mulai dari Sabang hingga Merauke. Data statistik menunjukkan bahwa kurang lebih 60% masyarakat Indonesia tinggal didaerah pesisir. Hal ini berarti begitu banyak aktivitas dari kelautan dan perikanan yang ada diwilayah pesisir. Mulai dari aktivitas penangkapan ikan, perdagangan, budidaya ikan hingga pembangunan di wilayah pesisir. Sektor kelautan dan perikanan sangat penting dalam kehidupan masyarakat pesisir, karena memiliki berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang perekonomian. Seperti potensi sumberdaya hayati, potensi pariwisata bahari, potensi jasa dan barang kelautan dan sebagai sumber pendapatan masyarakat pesisir. Namun dibalik semua potensi yang ada, Indonesia juga memiliki beberapa permasalahan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Seperti terbatasnya sumberdaya manusia yang berkualitas terkait kelautan dan perikanan, sarana dan prasarana yang belum menunjang seperti Tempat Pelalangan Ikan, koperasi pesisir, akses jalan dan transportasi, tingginya pencemaran pesisir laut, banyaknya sampah di pesisir laut yang belum diperhatikan dan maraknya aktivitas overfishing serta illegal fishing. Permasalahan tersebut dapat disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pesisir dalam memandang keberadaan laut. Laut pada saat ini masih berperan sebagai “tempat sampah”, tempat pembuangan sampah rumah tangga, limbah hasil proses industri pabrik dan aktivitas pembuangan lainnya. Pemerintah dalam hal ini pun tampaknya perlu lebih memperhatikan proses pembangunan nasional, antara pusat dan daerah. Realita yang ada selama ini adalah bahwa pembangunan yang ada lebih berorientasi kepada daratan, atau biasa disebut land oriented. Dampaknya adalah pembangunan di wilayah pesisir menjadi terpinggirkan, padahal pada kenyataannya hampir 70% masyarakat Indonesia yang berjumlah 250 juta jiwa hidup di wilayah pesisir. Pembangunan yang diperlukan dan dibutuhkan oleh masyarakat pesisir diantaranya seperti akses jalan dan transportasi yang masih sangat tidak memadai. Sebagai contoh untuk wilayah-wilayah yang berbentuk kepulauan, seperti Kepulauan Seribu dan Kepulauan Riau. Kemudian sarana penerangan dan sumber air bersih, bagi masyarakat yang tinggal dipesisir laut dan pulau-pulau kecil, terlebih yang berada di pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga. Penerangan dan sumber air bersih menjadi permasalahan pokok dalam aktivitas keseharian mereka. Sumber yang ada belum memadai, bahkan untuk beberapa wilayah tidak mendapat akses sama sekali seperti pulau paling utara di Kepulauan Seribu dan beberapa pulau terluar Indonesia. Pembangunan lain yang sangat penting adalah dalam bidang pendidikan, kurangnya tenaga pengajar terdidik, bidang kesehatan yang menjaga kesehatan masyarakat pesisir serta bidang kewirausahaan untuk membentuk kemandirian masyarakat pesisir. Antara potensi dan tantangan memang akan senantiasa berjalan beriringan, namun bukan berarti tidak ada penyelesaian terhadap potensi dan tantangan tersebut. Dengan luas wilayah dua per tiga berupa perairan laut, tentu bukan hal mudah bagi kita untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada. Namun dengan adanya penyamaan pandangan, rencana dan gerak langkah antara pemerintah dan seluruh pihak yang berkaitan dalam penjagaan, pemanfaatan dan pelestarian pesisir, laut dan pulau-pulau kecil akan memberikan sebuah dampak positif terhadap proses pembangunan kelautan Indonesia. Momentum Hari Nusantara yang dicetuskan pada Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 ini memiliki makna yang sangat penting untuk pembangunan kelautan Nusantara. Dengan melihat permasalahan di bidang kelautan yang ada pada saat ini, maka peningkatan kesadaran akan pentingnya laut untuk generasi masa depan mutlak harus dimiliki. Terutama kepada pihak yang berkaitan dalam pembangunan kelautan Nusantara ini, mulai dari Pemerintah sebagai pemegang kebijakan, institusi perguruan tinggi sebagai produsen kader-kader calon pemimpin bangsa, badan penelitian yang fokus pada bidang kelautan, serta masyarakat Indonesia dan masyarakat pesisir pada khususnya. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya laut untuk generasi masa depan, maka diharapkan aktivitas pemanfaatan dan pelestarian tidak lagi melebihi batas-batas yang telah ditentukan. Seperti tidak membuang sampah/limbah ke laut dan tidak ada lagi over fishing dan illegal fishing. Makna lain yang tidak kalah penting adalah pembangunan yang ada sekarang seharusnya tidak lagi hanya berorientasi pada darat. Laut pun penting untuk kemudian diperhatikan, seperti sarana dan prasarana, sumberdaya manusia, pemanfaatn sumberdaya alam dan hal lainnya. Bagi mahasiswa kelautan dan perikanan, momentum Hari Nusantara yang ke-53 ini seharusnya dapat memberikan stimulus tersendiri dalam meningkatkan semangat perbaikan bangsa melalui kelautan dan perikanan. Mahasiswa merupakan pihak yang memiliki posisi strategis dalam mempengaruhi arah perubahan bangsa. Mahasiswa juga dapat memberikan kontribusi besar dalam pembangunan pesisir seperti pengabdian kepada masyarakat pesisir. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan melahirkan karya-karya terbaik baik berupa karya tulis ilmiah maupun karya teknologi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s