Hari Ibu dan Mahasiswa : 22 Desember 1928 – 22 Desember 2010

Furkon_230210080062

Department of Marine Science, Fisheries and Marine Science Faculty, Padjadjaran University

 

 

Ibu, satu kata yang memiliki berjuta makna. Makna dalam sebuah keluarga, masyarakat, bangsa, sampai ke tingkatan dunia. Ibu, incubator pertama dalam kehidupan seorang anak manusia. Ketika baru pertama kali muncul ke dunia, seorang ibu-lah yang kemudian memberikan kasihnya, tak perduli walaupun suasana saat itu lelah setelah melahirkan. Justru karena sang bayi-lah semangatnya kembali ke posisi puncak. Dan hari ini, hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, hari ketika Kedudukan dan Peranan seorang Ibu kembali kepada posisinya semula, tidak menjadi pihak yang terdiskriminasi dan berada pada posisi yang seimbang dalam tataran kehidupan. Hari ini, 82 tahun yang lalu, tepatnya 22 Desember 1928, di Yogyakarta, pada saat itu sedang terjadi suatu kongres wanita yang dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 Kota di Jawa dan Sumatera. Hasil kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

82 tahun berlalu, bagaimanakah kondisi perempuan saat ini di Indonesia? Apakah pendidikan mereka sudah sesuai dengan pria? Apakah kesehatan mereka telah mendapat jaminan? Apakah ekonomi mereka sudah mencapai kata normal? Apakah mereka masih dianggap makhluk kelas dua? Apakah perempuan masih diidentikkan dengan segala urusan dapur, kasur dan sumur? Apakah perempuan masih mendapat perlakuan kasar dalam kehidupan berumahtangga? jawaban semua pertanyaan diatas ada di hati dan pikiran masing-masing dari kita. Tentu segudang jawaban sudah siap kita ungkapkan, tapi apakah hanya jawaban yang dibutuhkan?

Lantas apa kaitan antara mahasiswa dengan Ibu? Ibu sampai saat ini masih saya yakini merupakan orang yang paling menentukan dalam proses perkembangan anak manusia. Mulai dari tidak bisa berkata dan berjalan sampai pada kondisi-kondisi kita yang seperti sekarang ini. Tak dapat dipungkiri bahwa sedikit banyak, kehidupan seorang mahasiswa sekarang dapat dipengaruhi bagaimana hubungan nya dengan sang ibu. Banyak mahasiswa yang mungkin masih bisa menjada hubungan baik dengan sang Ibu, salah satunya mungkin dengan sering saling telpon atau saling mengunjungi dan member hadiah, sehingga dapat mempengaruhi pola hidup pada saat ini. Namun nyatanya tidak sedikit juga yang tidak dapat menjaga hubungan baik dengan sang ibu, ada yang sama sekali dalam sebulan tidak pernah berkomunikasi, ada juga yang hanya menghubungi sang ibu jika memiliki suatu keperluan yang sangat mendesak,

Kehidupan seorang mahasiswa dalam sebuah keluarga sangat menentukan arah kehidupan pribadinya, khususnya dalam dunia kampus. Jika terjadi sebuah ketidakharmonisan dalam keluarga, tidak terjalin komunikasi yang baik, dan terkesan saling membelakangi antara orang tua dengan anak, sering terjadi perbedaan pendapat yang terkesan sepele namun terlalu dibesar-besarkan. Maka pertanyaan yang muncul adalah apakah mahasiswa tersebut dapat bertahan dan memberikan sesuatu yang terbaik untuk akademik dan lingkungan sekitar? Saya rasa tidak. Dan kondisi sebaliknya saya yakin akan terwujud, tinggal bagaimana kita, `mau berada dimana ketika kemenangan itu tiba.

Bayangkan sahabat, apa yang sedang dilakukan beliau ketika kita jauh darinya, sudah seberapa sering kita memberikan hadiah kepada beliau? Bayangkan sahabat, apa yang beliau bayangkan ketika kita tidak ada dikamar yang biasa beliau datangi ketika malam tiba untuk membawakan segelas susu, sudah seberapa seringkah kita menanyakan kabar beliau dan mengucapkan selamat malam? Bayangkan sahabat, jika ketika kita pulang kerumah, tiba-tiba sudah ramai halaman dan dalam rumah kita oleh orang-orang yang dari wajahnya sudah terlihat raut sedihnya.Beberapa bendera kuning telah terpasang rapi di sudut-sudut rumah, dan saat itu Anda mendapati bahwa Ibu Anda telah tiada. Sahabat, sebelu, semua hal itu terjadi, mari kita bersama meluruskan cara pandang kita tentang keberadaan sang ibu. Manusia yang tak pernah lelah mengganti popok kita ketika larut malam, manusia yang tak pernah meminta dibayar ketika menggendong kita sambil memasak, mencuci bahkan sambil berbelanja, dan manusia yang sangat jarang kita apresiasi perihal peran pentingnya dalam membangun kehidupan berperadaban.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s