Menjadi Sarjana Muda yang Berkarakter dan Berkompeten

Furkon_Mahasiswa Angkatan 2008

 

Engkau sarjana muda,

resah tak dapat kerja, mengandalkan ijazahmu

Empat tahun lamanya,

bergelut dengan buku, sia-sia semuanya

 

Begitulah gaya Iwan Fals, dengan lugasnya menggambarkan kondisi sarjana muda Indonesia lewat judul lagu sarjana muda. Tentu terlintas dalam benak kita, semoga kita tidak termasuk ke dalam apa yang ada dalam sebait lirik lagu tersebut. Menjadi seorang sarjana muda adalah suatu pilihan, tapi menjadi seorang sarjana muda yang berkarakter dan berkompeten adalah sebuah kewajiban. Sarjana muda, tokoh yang terlahir dari rahim yang bernama kampus, dengan berwarnanya kehidupan yang ada padanya. Mulai dari warna semangat yang berbeda dari sebelumnya, dengan warna metode pembelajaran yang tidak sama dengan tingkat pendidikan sebelumnya, dengan warna persahabatan yang baru, dan dengan warna pengalaman yang sangat beragam. Warna-warna tersebut kemudian, dengan atau tanpa kesadaran kita, telah membentuk kita sebagai seseorang yang memiliki karakter dan kompetensi yang berbeda-beda, jangankan antara satu fakultas dengan fakultas yang lain, dalam satu ruang kelaspun kemungkinan memiliki karakter dan kompetensi yang berbeda tetap ada.

Seorang sarjana muda tentu akan menemui dunia yang sesungguhnya setelah keluar dari rahimnya, dengan warna yang telah dimiliki, berharap akan dapat minimal bertahan dari tantangan dunia yang sesungguhnya. Dalam mempersiapkan diri untuk memasuki dunia yang baru, maka tentu karakter dan kompetensi yang mumpuni dibutuhkan.

Hari ini, kita telah saksikan bahwa Indonesia sedang berjalan, jika tidak dapat dibilang sedang berlari, menuju Indonesia yang lebih sejahtera, maju dan mandiri serta berpendidikan dan berkeadilan, baik dalam bidang pembangunan, pengelolaan sumberdaya alam, maupun peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusianya. Indonesia, pada saat krisis 98’, banyak mendapat prediksi dari para pengamat ekonomi dan politik barat akan menemui kehancurannya dan akan terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil. Namun apa yang terjadi membalikkan prediksi tersebut, dan hingga hari ini Indonesia masih berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Proses menuju Indonesia yang lebih baik tentu membutuhkan sumberdaya manusia yang terbaik, bukan hanya sumberdaya manusia yang baik. Seperti kita ketahui bersama bahwa persaingan dari masa ke masa tentu mengalami peningkatan level atau kualitas, maka bersiaplah bagi kita yang tidak memiliki kualitas tersingkir secara menyakitkan, hanya ada dua pilihan bagi orang seperti ini, menjadi pengangguran atau pelayan orang lain. Tentu kita semua berharap menjadi orang yang memiliki kualitas luar biasa yang dapat menjadi leader untuk masa depan.

Kualitas seseorang tentu dapat dilihat dari dua parameter kehidupan, yaitu karakter dan kompetensi. Apakah karakter dan kompetensi yang telah tercipta dari warna-warna kehidupan kampus telah menjadikan kita sebagai manusia yang berkualitas dan bersiap dengan wajah tersenyum serta keyakinan yang melambung tinggi akan dapat bersaing dengan menyambut datangnya kehidupan yang sesungguhnya.

Karakter seperti apakah yang dibutuhkan untuk mempersiapkan kehidupan yang sesungguhnya, tentu kita semua sudah dapat menerkanya. Karakter yang dibutuhkan diantaranya adalah jiwa idealisme yang kuat tertanam, jiwa sosial yang tinggi, memiliki integritas, good life plan dan paham serta menerapkan nilai-nilai kereligiusan yang diyakini.

Karakter yang lebih lengkap diterangkan oleh hasil penelitian yang dilakukan NACE USA Mengenai Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi yang Diharapkan Dunia Kerja, diperingkatkan dari 1-20 kualitas dengan skor skala 1-5, diantaranya adalah kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, interpersonal, etos kerja yang baik, inisiatif yang tinggi, mampu beradaptasi, kemampuan analitikal, computer, berorganisasi, berorientasi pada kedetailan, leadership, percaya diri, berkepribadian ramah, beretika, bijaksana, kreatif, humoris dan kemampuan entrepreneurship. Dan tahukah Anda peringkat ke berapakah IPK seorang sarjana dalam persaingan dunia paskah kampus? Dengan IPK ≥ 3,0, ternyata ada di peringkat ke 17 dari urutan 20. Mengagetkan bukan?. Dan ternyata yang menduduki peringkat pertama adalah kemampuan komunikasi yang baik dan strategis.

Poin selanjutnya adalah kompetensi. Hari ini, sarjana muda yang dieksodus oleh perguruan tinggi sangat banyak, setiap tahun terus berulang. Namun tidak banyak yang memiliki kompetensi yang cakap di bidang ilmu yang didalami. Menjadi kompeten tentu memerlukan waktu dan usaha serta doa yang tidak sedikit. Kompetensi lahir dari kemauan diri sendiri yang disatukan dengan proses metode pembelajaran yang diberikan oleh perguruan tinggi. Bisa jadi jika para sarjana muda kurang kompeten, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan jalurnya pada perguruan tinggi, atau bisa jadi juga pada kemauan calon sarjana muda.

Berharap Indonesia bisa jauh lebih baik, jauh lebih sejahtera, maju dan mandiri serta berpendidikan dan berkeadilan. Dan bukan tidak mungkin itu semua tercipta saat kita memimpin negeri ini pada masa depan. Maka sampai bab ini, self oriented sudahlah tutup buku, untuk kemudian membuka buku baru dengan bahasan people oriented. Semoga kita tidak termasuk seorang sarjana yang digambarkan dalam lirik lagu sarjana muda di atas, resah tak dapat kerja dan sia-sia.

Selamat menikmati dunia baru, selamat berkarya… wahai sarjana muda Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s