Pandangan Terhadap Kebijakan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak

Maafkan kedua orangtuamu kalau … tak mampu beli susu

BBM naik tinggi susu tak terbeli

Orang pintar tarik subsidi …  bayi kami kurang gizi

Sejenak dapat kita pahami lirik sarat makna dari lagu yang berjudul Galang Rambo Anarki karya Iwan Fals tersebut. Betapa kebijakan pemerintah hari ini yang akan menaikkan harga BBM Rp. 1000 – Rp. 1.500 per 1 April 2012 tidak hanya akan berdampak ekonomi pada masyarakat, terlebih golongan buruh, petani dan nelayan, tapi juga akan berdampak pada nilai sosial budaya masyarakat. Masyarakat tidak pernah tahu dan tidak diberi tahu apa yang melatarbelakangi kenaikan BBM tersebut secara publik, seolah ini hanya menjadi santapan para elit bangsa untuk kemudian “membuang sisa santapan” tersebut kepada masyarakat.

Harga bahan bakar minyak di Indonesia memang selalu disubsidi oleh pemerintah. Jumlah subsidi meningkat karena perkiraan harga minyak dalam APBN tahun 2012 sebesar US$90 per barel ternyata telah mencapai US$124. Produksi yang diperkirakan sebesar 950 ribu barel per hari mungkin hanya akan mencapai 905 ribu barel per hari (Tempo, 20-26 Februari 2012). Kondisi tersebut mengakibatkan defisit anggaran tahun 2012 mencapai Rp. 124 triliun. Namun apakah kondisi tersebut lahir dari hasil pengamatan dan perhitungan yang tepat dan menyeluruh oleh orang-orang yang dapat dipercaya?. Sampai pada titik ini, kita patut untuk berpikir ulang terhadap kebijakan kenaikan BBM tersebut.

Orang awam mungkin akan berpikir, dengan adanya kebijakan subsidi BBM yang didapat sampai hari ini pun, kehidupan mereka tidak dapat beranjak dengan baik, kemudian muncul dugaan bahwa kebijakan subsidi BBM pun hanya dimanfaatkan dan dinikmati oleh orang-orang yang tidak pantas di negeri ini. Disisi lain kebijakan pemerintah yang memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, dinilai tidak optimal dan banyak yang tidak tepat sasaran. Justru sebagian kalangan menilai program BLT hanya untuk pembodohan terhadap masyarakat.

Guru Besar Ekonomi SDM Universitas Andalas menyatakan bahwa ketakutan munculnya gejolak sosial merupakan bagian dari pertimbangan penting. Sebaliknya, setiap kali ada penundaan harga minyak, itu sama saja kita mendidik masyarakat untuk dininabobokan. Lihatlah betapa banyak konsumsi BBM yang tidak produktif dengan bertambahnya sepeda motor roda dua 10 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, demikian juga penjualan mobil. Beliau juga memaparkan banyak yang percaya bahwa subsidi BBM lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat yang memiliki penghasilan 20% tertinggi.

Sejak pemerintahannya tahun 2004, Presiden SBY telah menaikkan harga BBM hingga 200-an persen. Kenaikan tertinggi dalam sejarah Indonesia. Akibat kenaikan BBM tersebut, pada tahun 2005, setahun sejak SBY memerintah, sebanyak 100 juta orang jatuh dalam kemiskinan. Jumlah tersebut mencapai 49 persen dari jumlah penduduk Indonesia (World Bank, 2005). Jumlah pengangguran menurut Badan Pusat Statistik mencapai 11,79 juta jiwa (BPS, 2009). Indikator tersebut direkayasa Bank Dunia untuk seluruh negara miskin di dunia. Kondisi masyarakat Indonesia sebetulnya masih sangat miskin, lebih dari 49% rakyat Indonesia berpendapatan dibawah 2 US$ per hari. Lebih dari 50% dari 110 juta pekerja di Indonesia masuk dalam kategori pekerja miskin.

Kebijakan menaikan harga tersebut disatu sisi telah menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Indonesia menjadi salah satu dari 20 negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia. Akan tetapi kenaikan PDB Indonesia dipicu oleh kenaikan konsumsi rumah tangga. Kenaikan konsumsi rumah tangga disebabkan oleh kenaikan harga-harga. Indeks kualitas manusia Indonesia sangat jauh menurun, karena kenaikan harga, tidak pernah diikuti dengan kenaikan pendapatan yang memadai.

Kalaupun kebijakan ini akan terus berlanjut, tampaknya perlu ada regulasi khusus terhadap mereka yang mengalami langsung dampak kenaikan ini, seperti penyediaan makanan akan lebih tepat untuk buruh berpendapatan rendah, subsidi pupuk dan upah kerja dijadikan sebagai kompensasi untuk masyarakat desa. Bagi nelayan, kompensasi yang paling tepat adalah dengan memberikan subsidi penggunaan solar dan bensin serta beras. Regulasi tersebut tampak jauh lebih tepat ketimbang dengan pembodohan publik dengan memberikan uang secara cuma-Cuma kepada masyarakat melalui program BLT.

Pada alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, berbunyi bahwa “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dari seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum…”. Terdapat beberapa kata menarik dalam kalimat tersebut, yaitu “…melindungi segenap bangsa Indonesia dari seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum…”. Kata melindungi dan memajukan kesejahteraan umum dalam kalimat tersebut tentu tidak hanya untuk sebagian kalangan, atau hanya untuk kalangan elit penguasa atau orang-orang kaya, tapi juga menyentuh masyarakat golongan menengah ke bawah, seperti buruh, masyarakat pedesaan dan perkotaan, petani dan juga nelayan.

Jika dengan kebijakan menaikan harga BBM ini, pemerintah tidak mendapatkan makna melindungi dan memajukan kesejahteraan umum, tentu ini akan menjadi bola salju yang siap membesar dan meledak setiap saat. Dengan hal ini pun pemerintah dapat dikatakan mengabaikan hak konstitusional rakyat Indonesia, yang artinya pemerintah telah melakukan kesalahan fatal sehingga tidak dapat menyelamatkan (melindungi) dan menjaga kesejahteraan rakyatnya. Sehingga dapat berujung pada mekanisme Impeachment Presiden SBY. Maka rezim SBY pun diprediksi tinggal menunggu waktu, di turunkan atau menurunkan diri.

One thought on “Pandangan Terhadap Kebijakan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak”

  1. pemikiran orang awam kenapa seluruh eksport minyak mentah kita tidak dikonsumsi saja didalam negeri, kenapa pula PERTAMINA tidak eksploitasi dan produksi sendiri saja di sumur2 minyak kita……kenapa????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s