Tuhan (juga) Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir

Mahasiswa tingkat akhir, mahasiswa yang memiliki berjuta harapan, juga berjuta tantangan. Ketika harapan dan tantangan datang silih berganti, maka hanya orang-orang yang dekat dengat Tuhannya, bervisi masa depan dan bermental kuat yang dapat melewatinya. Maka mari kita tanyakan saja kepada mereka yang sedang berkutat dengan Penyusunan  (Seminar) Usulan Penelitian, Penelitian lapangan/Laboratorium atau persiapan untuk Sidang Usulan dan Sidang Komprehensif, sedekat apa mereka dengan Tuhannya.

Pertanyaan yang paling sering keluar dari lingkungan sekitar adalah “kapan lulus?”.  Kemudian datang secara beruntun dengan pertanyaan kedua “setelah lulus mau kemana?”. Dan ditutup oleh pertanyaan yang menuntut jawaban jujur dan reflektif “biasanya, lulusan kita kemana aja setelah lulus?” .Tiga pertanyaan yang sangat identik untuk ukuran mahasiswa tingkat akhir. Pertanyaan yang sangat mudah terlontar dan tidak mudah untuk dijawab.

Tidak sedikit mahasiswa yang tak kuat mental dan memilih untuk “merefresh” dirinya ketika dihadapkan pada berbagai macam tantangan saat menjadi mahasiswa tingkat akhir. Mulai dari tantangan mempersiapkan diri, keuangan, hingga beragamnya respon komunikasi dengan pihak pembimbing/penelaah, dan biasanya tantangan tersebut sangat dekat dengan yang namanya kemauan dan keadaan. Apakah kemauan kita dapat mengalahkan tantangan-tantangan tersebut, atau malah keadaan yang mempengaruhi kita hingga membuat kita lemah  tak berdaya dan memilih untuk menjauh?

Ketiga pertanyaan mendasar tersebut sesungguhnya dapat dibangun (dijawab) oleh sejauhmana kita memaknai hakikat dari kehidupan yang kita jalani. Apakah hakikat hidup kita untuk money oriented atau God oriented. Sungguh sangat disayangkan saat disekitar kita berlomba untuk memberikan yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada bangsa tanah air tercintanya, justru pada saat yang bersamaan kita memilih untuk memikirkan diri sendiri untuk kepentingan pribadi. Dan bayangkan jika hal ini dipikirkan dan terjadi pada setiap diri manusia di tanah air ini, apa jadinya masa depan ibu pertiwi kita?.

Akankah kita semata mengejar target lulus secepatnya tanpa mempersiapkan secara terukur dan jelas hal besar apa yang akan kita capai? Ah, jawab saja dengan ringan “nanti saja kalau sudah lulus, baru dipikirkan mau kemana”. Sekilas tak ada yang salah dengan jawaban ringan tersebut. Namun tahukah kawan, apa status kita setelah proses unforgettable yang bernama wisuda? Pengangguran, ya kita adalah pengangguran (bagi yang tidak berbisnis). Dan tahukan teman, bagaimana ekspektasi lingkungan (khususnya masyarakat tempat tinggal) terhadap seorang yang bernama sarjana? Dan bagaimana pula hubungan kita dengan keluarga?. Dan semoga kita juga tersadar bahwa masyarakat Indonesia menunggu dan membutuhkan uluran bantuan nyata kita sebagai bentuk timbal balik kita yang selama kuliah telah mendapatkan bantuan dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat berupa fasilitas dan subsidi kuliah yang tanpa kita sadari telah kita nikmati. Dan tahukah teman berapa sesungguhnya nominal angka yang harus kita bayar seandainya rakyat tak membayarkan pajak mereka yang kemudian kita terima dalam bentuk fasilitas dan subsidi perkuliahan tersebut? Sangat besar teman, ya sangat besar.

Meminjam kalimat indah dari seorang tokoh bangsa, Anis Matta, beliau pernah mengatakan Kapasitas seseorang dapat dilihat dari tingkat keresah/risauannya. Sederhananya, jika dia resah/risau dengan dirinya sendiri dan dengan orientasi untuk kepentingan pribadinya, maka sesungguhnya kapasitasnya adalah hanya sebatas sejauhmana dia bisa menjawab kebutuhan pribadinya. Namun jika dia resah dan risau dengan permasalahan yang ada pada bangsa nya, dan berusaha untuk menjadi bagian perubahan untuk bangsanya, maka sesungguhnya kapasitasnya adalah seluas sebesar bangsanya. Maka sudah setinggi apa tingkat kerisauan kita? Apakah dengan langkah/pun aktivitas yang sedang kita tempuh hari ini hanya untuk menjawab keresahrisauan pribadi atau menjawab keresahrisauan bangsa tanah air tercinta kita ini?

Selamat bertebaran dimuka bumi wahai para penerus bangsa.

Dan ingatlah dibalik itu semua, bersama itu semua dan dengan itu semua, Tuhan (juga) bersama Mahasiswa Tingkat Akhir. Lantas alasan apalagi yang membuat kita mendekati-Nya?

One thought on “Tuhan (juga) Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s