Belum Ada Judul (lagi)

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai sa’at kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah . . . . . . . kau

(Iwan Fals – Belum Ada Judul)

Masih lekatkah dalam ingatan diri, saat itu, saat dimana para tokoh bangsa berhimpun dalam rumah kost sederhana milik seorang Bapak Pelopor Pergerakan Indonesia, H.O.S Cokroaminoto? (Calon) Tokoh bangsa seperti Bung Karno, Kartosuwiryo, Semaun, Alimin sampai Muso pernah menetap bersama. Kebersamaan mereka bukan tanpa alasan, kebersamaan yang dilandasi visi dan keyakinan akan pemikiran dan masa depan bangsanya. Bahkan seorang Tan Malaka, tokoh yang sebagian besar masa hidupnya berada dalam persinggahan, pernah berguru pada Bapak Pelopor Pergerakan Indonesia itu.

Tentu menetapnya mereka secara bersama bukan tanpa alasan, dengan kondisi seadanya, rumah sederhana yang berisi para (calon) tokoh bangsa, mereka “dibina” secara alamiah. Dengan ragam pemikiran yang berbeda, yang mereka dapat dari berbagai jaringan yang berbeda, mulai dari pemikiran nasionalis seperti Bung Karno, pemikiran komunis seperti Muso, pemikiran islamis seperti Kartosuwiryo hingga pemikiran kebangsaan dan kenegaraan seperti Tan Malaka. Pesan beliau kepada para “binaan” nya yang masih popular dari generasi ke generasi adalah Jika kalian ingin menjadi Pemimpin Besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator.

Kini, berangkat dari bangunan yang hanya terdiri dari 11 kamar yang dihuni oleh 33 mahasiswa future leaders memiliki visi yang sama akan Indonesia masa depan, Indonesia yang Mulia, Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Tidak dapat dinafikan jika motivasi 33 kepala yang berhimpun saat ini beragam adanya, mulai dari mendapat beasiswa uang saku dan fasilitas asrama, hingga motivasi mendapatkan pembinaan dan harapan akan menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Namun tak usahlah kita risaukan itu semua,mari kita fokus pada penerimaan keadaan baru, penerimaan pada penghargaan kepada sesama, kepada sistem dan kepada waktu. Fokus pada penerimaan bahwa keberhimpunan ini bukanlah keberhimpunan biasa, namun keberhimpunan yang memiliki visi dan keyakinan yang kuat, serta keikhlasan diri untuk dibentuk dan membentuk diri hingga menjadi pribadi-pribadi yang islami, berintegritas dan berkredibilitas yang tinggi, berkepribadian matang, moderat serta peduli terhadap bangsa dan negara.
Maka tepat kiranya rangkaian kalimat penuh makna ini Banyak sekali orang yang memiliki ide bagaimana orang lain harus berubah, tetapi sedikit sekali orang yang memiliki ide bagaimana dirinya sendiri harus berubah (Leo Tolstoy).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s